Rindu

Judul: Rindu
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tebal: 544 halaman
ISBN: 978 6028 997 904

Saat itu, tahun 1938.

Blitar Holland adalah kapal yang setiap tahun dinanti kedatangannya oleh semua umat Islam pada masa itu. Kapal tersebut akan membawa para penumpang dari seluruh Indonesia untuk pergi menunaikan haji ke Baitullah. Dilihat dari luar, setiap penumpang Blitar Holland adalah orang-orang biasa. Namun, siapa tahu, dibalik penampilan luar mereka ada banyak jiwa yang resah dan penuh dengan pertanyaan tentang kehidupan.

Daeng Andipati adalah salah satu penumpang yang menaiki kapal Blitar Holland. Ia adalah seorang saudagar terkenal asal Makassar yang hendak pergi berhaji bersama istri, dua anaknya -Ana dan Elsa-, serta seorang pembantu. Andi, sebutan Daeng Andipati, terlihat sebagai orang yang tidak mempunyai musuh. Namun siapa sangka, di dalam kapal ia diserang oleh seorang penumpang gelap yang berhubungan dengan masa lalunya dan sudah lama membuntutinya.

Ada juga Gurutta dalam kapal Blittar Holland tersebut. Beliau adalah ulama besar Makassar. Dibalik penampilannya yang berwibawa dan pandai menjawab pertanyaan semua orang, Gurutta menyimpan berbagai pertanyaan tentang dirinya yang merasa kurang berilmu dan kurang berperan dalam mendorong kemerdekaan Indonesia. Gurutta juga sempat dilarang menumpang kapal oleh Sersan Lucas, tentara Belanda yang mengawal kapal Blittar Holland. Sersan Lucas menjebloskan Gurutta ke penjara di tengah perjalanan kapal, karena Gurutta membuat buku tentang kemerdekaan. Namun siapa sangka, justru Gurutta lah yang menyelamatkan hidup Sersan Lucas suatu hari.

Kisah lainnya dari para penumpang Blittar Holland adalah kisah Bonda Upe dan Ambo Uleng. Bonda Upe adalah seorang muslimah keturunan Tionghoa. Ia menumpang kapal Blittar Holland bersama suaminya. Bonda Upe menawarkan diri untuk mengajarkan Alquran pada anak-anak dalam kapal. Selain ke masjid untuk mengajar Alquran, Bonda Upe tidak mau keluar kabin karena takut orang-orang mengetahui masa lalunya. Selalu ada pertanyaan yang mengganggu benak Bonda Upe, akankah orang seperti dirinya yang bekas cabo (sebutan untuk pekerja seks komersial saat masa penjajahan Belanda) diterima ibadah hajinya?

Sementara itu, Ambo Uleng adalah seorang pelaut yang mendaftar menjadi kelasi di kapal Blitar Holland. Ambo hanya ingin pergi sejauh mungkin karena ia sedang patah hati akibat akan ditinggal menikah oleh seorang gadis yang dicintainya. Ambo juga beberapa kali menjadi penyelamat bagi para penumpang kapal Blitar Holland. Ambo menyelamatkan Ana yang tertinggal di pasar saat bentrokan antara Tentara Belanda dan pejuang kemerdekaan. Ambo juga menyelamatkan Daeng Andipati yang diserang penumpang gelap, serta membantu melawan perompak saat kapal Blitar Holland diserang Perompak Somalia.


***


novel rindu tereliye

Novel ini adalah novel karya Tere Liye kesekian yang saya baca. Novel ini berlatarkan sebuah kapal di jaman penjajahan Belanda sekitar tahun 1938 bernama Blitar Holland, juga beberapa pelabuhan yang ada saat itu seperti Pelabuhan Batavia, Pelabuhan Surabaya, dan sebagainya.

Alur cerita cukup lambat di awal, namun selanjutnya banyak peristiwa terjadi yang membuat jalan cerita semakin cepat. Tokoh utamanya ada beberapa, yaitu Gurutta, seorang ulama besar Makassar. Ada juga Daeng Andipati, saudagar kaya asal Makassar. Ada Ambo Uleng, seorang pelaut, dan Bonda Upe, seorang muslimah keturunan Cina. Tokoh lainnya ada pimpinan kapal, Kapten Phillips, Ruben –teman sekamar Ambo-, dan lain--lain.

Walau pernah ada pro kontra di media sosial tentang penulis ini, saya masih suka sekali membaca karyanya. Selalu ada saja quote-quote menarik yang bisa menambah kekayaan jiwa dari novel karya Tere Liye. Diantaranya adalah:

  1. Introspeksi

Gurutta, walau digambarkan sebagai seorang yang banyak ilmu dan pandai menjawab pertanyaan orang lain, namun banyak sekali pertanyaan dalam dirinya tentang kemampuannya. Hal itu sangat manusiawi. Kita juga mungkin pernah dalam kondisi di atas, dipuji atas kemampuan kita. Padahal ketika kita instrosp-eksi, jauh di dalam hati kita, kita merasa seperti butiran debu yang banyak sekali kekurangannya.

“Apakah mungkin karena ia sendiri memang tidak pernah seyakin itu atas pengetahuan yang ia miliki? Apakah mungkin karena ia sendiri memang tidak sebijak, setangguh, bahkan sebaik itu? mungkin ialah bagian paling munafik dalam seluruh cerita. Bagaimana ia menulis sebuah buku yang membuat jutaan pembaca tergerak hatinya, jika ia sendiri tidak tergerak? Bagaimana ia bicara tentang perlawanan, tapi ia sendiri adalah pelaku paling pengecut?” (halaman 232)

  1. Mengambil hikmah dari masa lalu

Bonda Upe, selalu menghindar dari orang lain karena takut penilaian mereka tentang masa lalunya. Ia juga selalu mempertanyakan, apakah Allah SWT akan menerima ibadahnya atau tidak? Kita semua juga punya masa lalu. Masa lalu yang indah mungkin indah dikenang, lain halnya dengan masa lalu yang kelam.

“Cara terbaik menghadapi masa lalu adalah dengan dihadapi. Berdiri gagah. Mulailah dengan damai menerima masa lalumu. Buat apa dilawan? Dilupakan? Itu sudah menjadi bagian dari hidup kita. Peluk semua kisah itu. Berikan dia tempat terbaik dalam hidupmu. Itulah cara terbaik mengatasinya. Dengan kau menerimanya, perlahan-lahan, dia akan memudar sendiri. Disiram oleh waktu, dipoles oleh kenangan baru yang lebih bahagia.” (halaman 312) 

“Kita tidak perlu memuktikan apapun kepada siapapun bahwa kita itu baik. Buat apa? Sama sekali tidak perlu. Jangan merepotkan diri sendiri dengan penilaian orang lain. karena toh, kalaupun orang lain menganggap kita demikian, pada akhirnya tetap kita sendiri yang tahu persis apakah kita memang sebaik itu?” (halaman 313-314)

”Pahami tiga hal itu, nak. Semoga hati kau menjadi lebih tenang. Berhenti lari dari kenyataan hidupmu. Berhenti cemas atas p-enilaian orang lain, dan mulailah berbuat baik sebanyak mungkin. “ (halaman 315)

  1. Belajar memaafkan

Semua orang pernah sakit hati dan membenci, namun memaafkan itu lebih baik agar hidup kita tenang.

“Berhenti membenci ayahmu, karena kau sedang membenci diri sendiri. Berikanlah maaf karena kau berhak atas kedamaian dalam hati. Tutup lembaran lama yang penuh coretan keliru, bukalah lembaran baru. Semoga kau memiliki lampu kecil di hatimu.” (halaman 376)

  1. Alquran sebagai mukjijat

Jaman dahulu, banyak orang yang mendengar dongeng tentang hal-hal ajaib di luar nalar manusia. Padahal mukjijat sesungguhnya ada di hadapan mereka.

“Sebagian orang-orang yang tidak paham akan merubung, mendengar kisah itu. Hingga mereka lupa, bahwa mukjijat paling besar dalam agama kita justru ada di lemari rumahnya, ada di meja-meja rumahnya. Dibiarkan berdebu tanpa pernah dibaca.” (halaman 394) 

  1. Terus memperbaiki diri

Tugas kita manusia di dunia adalah berbuat baik dan beribadah, Allah SWT lah yang akan menentukan hasil apakah kita berhak mendapat keinginan kita atau tidak.

“Jika harapan dan keinginan memiliki itu belum tergapai, belum terwujud, maka nakan menyingkapkan misteri takdirnya (halaman 493)

Satu yang pasti, hikmah yang bisa diambil adalah membangkitkan kerinduan pada setiap muslim untuk mendatangi Baitullah. Orang jaman dahulu, rela menaiki kapal selama berbulan-bulan perjalanan untuk pergi Haji. Sekarang, pergi haji menaiki pesawat hanya perlu berjam-jam, yang lama adalah menunggu giliran pergi hajinya karena terbatasnya kuota. Semoga kita semua dimampukan Allah SWT untuk beribada ke Baitullah, amin!


Comments

  1. Aku baru tahu mbak punya blog khusus review buku.

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. awalnya sy malas2an karena alurnya lambat tp setelah itu malah seru

      Delete
  3. sama kek mb awalnya males krn berkutat dg rutinitas blm terlihat konflik lama2 seru apalagi bagian2 akhir yg kapalnya dibajak aku merinding suka sama karakter Ambo

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita-cerita Tentang Cinta Lingkungan

Giveaway Buku Republika

Istri dan Suami Yang Dirindukan Surga