Tentang Kamu

Judul: Tentang Kamu
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tebal: vi + 524 halaman
ISBN: 978 6020 822341
Harga: Rp 79,000

Zaman Zulkarnaen, pemuda asal Indonesia itu kini bekerja di firma hukum Thomson & Co. setelah menyelesaikan pendidikan di London. Firma hukum tersebut tidak terlalu terkenal dan megah dibanding firma lainnya. Namun, firma tersebut memiliki reputasi baik dan sudah banyak menyelesaikan kasus hukum sejak tahun 1900an, terutama kasus warisan. Para pengacara di firma tersebut dikenal sebagai 'ksatria', dalam arti menjunjung kejujuran dan kemanusiaan.

Betapa terkejutnya Zaman ketika satu saat ia mendapat tugas untuk menangani kasus warisan seorang perempuan asal Indonesia bernama Sri Ningsih. Wanita tersebut sudah wafat dan meninggalkan harta warisan yang nilainya sangat besar dan bisa menyaingin kekayaan Ratu Inggris, namun tak ditemukan surat wasiat yang menyatakan kepada siapa harta warisan tersebut harus diberikan.

Zaman pun tergerak untuk menelusuri kisah hidup Sri Ningsih untuk mendapat berbagai petunjuk.

Sri Ningsih lahir dan besar di Pulau Bungin. Ia merupakan anak dari seorang pelaut tangguh asal Jawa bernama Nugroho. Ibunya, Rahayu, meninggal ketika melahirkan Sri. Nugroho kemudian menikah lagi dengan Nurri Marata, penduduk asli Pulau Bungin dan mendapat anak lelaki bernama Tilamuta.

Tak dinyana, satu saat ketika melaut, Nugroho meninggal. Sejak itu, sikap Nurri Maratta sangat jahat kepada Sri karena kesedihannya yang sangat. Tetangga tahu, tapi tak mau tahu.

Bertubi-tubi musibah kemudian menghampiri Sri. Rumahnya terbakar dan ibu tirinya meninggal terpanggang api, yang selamat hanya Tilamuta dan Sri. Atas rujukan Guru Bajang, mereka berdua pergi ke Jawa untuk belajar di masrasah selepas kejadian kebakaran tersebut.

Kehidupan di madrasah awalnya menyenangkan. Sri dapat teman baru yang sudah seperti keluarga baginya. Sri bersahabat dengan Nuraini dan Lastri. Namun persahabatan mereka rusak karena rasa iri dan dendam di hati Lastri. Lastri dan suaminya -yang seorang guru di madrasah tempat mereka belajar dan mengajar- pergi dari madrasah dan menjadi antek komunis.

Pada masa pemberontakan komunis, Lastri dan suaminya ikut membantai para santri dan keluarga Nurani yang notebene pengurus dan pemilik madrasah. Untungnya pemberontakan mereka tak berlangsung lama karena tentara berhasil menguasai lagi Indonesia. Lastri ditangkap dan dipenjara.

Selepas kejadian itu, Sri pergi ke Jakarta untuk mengadu nasib. Disana ia sukses sebagai pengusaha. Namun, tiba-tiba Sri seperti melihat 'hantu masal lalu' dan menjual perusahaannya lalu pergi ke London. Di sana, Sri juga berhasil berkarir sebagai supir bus dan bahkan menemukan cintanya. Namun, sama seperti ketika di Indonesia, Sri lagi-lagi secara mendadak menghilang seperti ketakutan sehabis melihat hantu.

Lalu, bagaimana nasib Sri selanjutnya? Apa yang dialami Sri sehingga ia merasa ketakutan dan pergi menghindar begitu saja? Bagaimana Sri bisa memiliki warisan yang begitu besar? Dan bagaimana Zaman menyelesaikan masalah warisan Sri ini karena tak diketahui ahli warisnya? 

Semua jawabannya ada di buku ini.

tentang kamu tere liye


***

Terus terang buku ini tebal banget, namun saya tak bisa berhenti membacanya karena penasaran banget dengan kelanjutan cerita Sri Ningsih. Saya berhasil menyelesaikannya selama beberapa hari, gak sampai berminggu-minggu.

Novel karya Tere Liye ini berlatar di beberapa tempat yaitu Pulau Bungin (Sumbawa) -yang mana saya jadi tahu ada pulau seperti pulau Bungin yang termasuksalah satu Pulau terpadat di dunia-, madrasah di Pulau Jawa, ibukota Jakarta (Tanah Abang dan yang lainnya), London dan Paris.

Alur yang digunakan adalah alur maju dan mundur, untuk mencari tahu cerita Sri Ningsih di masa lalu, disertai keterangan waktu (tanggal, bulan, tahun) yang cukup jelas. Sedangkan katakter tokoh utamanya yaitu Sri Ningsih, digambarkan sebagai tokoh yang kuat dan pintar walaupun penampilan fisiknya legam dan gempal. Sosok yang manusiawi banget, dimana setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan.

Yang sedikit membuat saya kurang nyaman adalah kemalangan-kemalangan yang menimpa Sri Ningsih sehingga Sri merasa dirinya sebagai 'anak yang dikutuk'. Namun keberhasilan-keberhasilan Sri dalam bisnisnya dan cintanya, cukup menghibur saya sebagai pembaca. Kegilaan-kegilaan calon suami Sri, Hakkan, yang dilakukan setiap hari selama setahun karena ketertarikannya pada Sri, juga membuat gregetan. Duh, adakah orang di dunia ini seperti Hakkan? Kenapa tidak bicara terus terang saja bahwa ia tertarik pada Sri? Namun disanalah keunikan ceritanya. Mungkin ada saja orang yang tidak berani terus terang langsung bahwa ia tertarik pada seorang wanita dan menunggu momen yang tepat untuk mengatakannya? Dan selalu ada orang seperti Sri yang hanya bisa menerima cinta yang tulus dan perlu proses dalam menerima seseorang karena kondisi fisiknya yang dirasa kurang sempurna.

Latar belakang penulis yang berhubungan dengan dunia ekonomi, menjadikan cerita ekonomi dalam buku ini kaya. Terutama ketika Sri Ningsih membangun kerajaan bisnisnya dan bagaimana pintarnya Sri Ningsih menyembunyikan warisannya ke dalam bentuk surat berharga (saham).

Yang paling menarik adalah ending cerita ini. Tokoh yang tak diduga hadir kembali di akhir cerita. Memang sulit dimengerti jika dendam yang sudah lewat bertahun-tahun masih menetap di hati seseorang. Bukankah dengan berjalannya waktu, rasa sakit akan terobati? Namun dalam sebuah fiksi, semua sah-sah saja kan? Yang tak kalah menarik juga adalah cerita tentang Zaman Zulkarnaen, si pengacara muda yang menangani kasus Sri Ningsih. Ternyata kehidupannya pun tak jauh dari sengketa warisan keluarga yang diketahui di akhir cerita.

Secara umum, buku ini telah berhasil mengaduk perasaan saya sebagai pembaca antara gregetan dengan orang yang suka mendendam, kagum akan kepintaran seorang wanita bernama Sri Ningsih, haru dengan rasa cinta yang dimiliki Sri dan pasangannya, serta perasaan lainnya. Wawasan pun didapat tentang dunia ekonomi dan dunia hukum di Inggris sana. 

Oh ya, terakhir tentang Cover buku ini yang begitu sederhana  dengan gambar sepasang sepat. ENtahlah, mungkin ada makna filosopi di baliknya. Seperti lagunya Tulus tentang sepasang sepatu yang saling melengkapi. Mungkin sepasang sepatu di cover buku Tere Liye ini menggambarkan sepasang manusia yang melengkapi satu sama lain dalam sebuah pernikahan. Sepasang manusia itu adalah tokoh utama dalam buku ini yaitu Sri Ningsih dan Hakkan. 


Kamu tahu Sri, apa yang membuat pernikahan orangtua dulu langgeng berpuluh-puluh tahun? Karena mereka jatuh cinta setiap hari pada orang yang sama. Itulah yang terjadi. Maka, kesedihan apapun, ujian seberat apapun bisa dilewati dengan baik. Aku berjanji Sri. AKu akan membuatmu jatuh cinta lagi, lagi, dan lagi padaku. Agar kita bisa melanjutkan hidup seperti dulu. Agar aku bisa menyaksikan Sri yang selalu riang. Sri yang selalu sederhana menatap kehidupan ini.” (halaman 385)



Comments

  1. Dari dulu Tere Liye tu kalo bikin judul novel sederhana banget, tapi isinya luar biasa. Makasih Mbak Kania.

    ReplyDelete
  2. Aku baca dalam sehari mba hahaha sedih sama kisahnya Sri apalagi kisah kecilnya di pulau bungin :(
    endingnya bikin lega meskipun betul kata mba masa iya yg di masa lalunya bisa mudah begitu saja hahaha namanya jg fiksi ;p

    ReplyDelete
  3. Aku juga gemes mba pas baca novel ini. Ga sabar pengin tau endingnya. Jalan ceritanya sungguh bikin penasaran. Aku jadi penasaran soal Sri Ningsih ini dan kehidupan masa lalunya.

    ReplyDelete
  4. Wah belum baca Novel ini.
    Menarik sekali buku Tere Liye
    judulnya singkay, isinya alam fan menari

    ReplyDelete
  5. Penasaran nih, gimana Tere Liye dapat ide ditiap novel tebalnya ya?. Gak pernah tipis siih. Sepadat inti ceritanya

    ReplyDelete
  6. Belum baca, nih. Jadi tertarik baca reviewnya :)

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita-cerita Tentang Cinta Lingkungan

Giveaway Buku Anak “Menggapai Mentari”

Polisi Sahabatku