Catatan Perjalanan Ibu Penggila Traveling


Judul: Momtraveler's Diary, Catatan Perjalanan Seru Bersama Si Kecil
Penulis: Muna Sungkar
Penerbit: Sixmidad
Tahun: Juni 2014
Halaman: viii + 213
ISBN: 978-602-70506-2-4

Sebagian orang menganggap traveling adalah kegiatan buang-buang uang. Namun bagi Muna Sungkar, traveling telah menjadi salah satu hobi. Bahkan, cinta dalam hidupnya. 

Salah satu impian besar Muna adalah mengelilingi Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Menjadi ibu sama sekali bukan halangan baginya untuk menjelajahi Indonesia. Sebuah ide gila muncul di kepalanya: Ia akan terus melangkahkan kaki menapaki bumi Tuhan bersama suami dan buah hatinya, Nadia. Sejak hari itu Muna menyebut dirinya dengan Momtraveler

Banyak pengalaman menarik yang didapatkan Muna saat traveling bersama keluarganya. Di Medan, Muna dan keluarga mengunjungi Vihara Adhi Meitreya atau dikenal penduduk Medan dengan Vihara Cemara Asri. Vihara yang didominasi warna oranye dan keemasan ini merupakan salah satu vihara terbesar di Asia Tenggara. Uniknya, vihara ini menyediakan area bermain untuk anak-anak secara gratis! Suatu kebahagiaan bagi ibu penggila traveling seperti Muna, mendapatkan sarana bermain gratis dan aman untuk si kecil (halaman 13). 

Muna menikmati matahari terbit di Pantai Papuma yang terletak di Desa Sumberejo, Jember. Ternyata Pantai Papuma di pagi hari justru padat pengunjung. Mereka memiliki tujuan yang sama untuk menikmati matahari terbit. Tak sedikit diantara mereka yang menggelar tenda di sepanjang bibir pantai. Sayang, keseruan camping di pinggir pantai kadang menyisakan sampah dimana-mana. Nadia yang masih kecil pun protes pada Muna. “Om-om itu enggak oke ya Ma, pada buang sampah sembarangan.” (halaman 68).

Muna sempat cemas saat akan traveling ke Bromo. Ia memikirkan kemungkinan Nadia sakit karena cuaca dingin, atau asmanya kambuh. Rupanya, keinginan untuk melihat keindahan Bromo, hijaunya Bukit Teletubies, dan hamparan pasir yang berbisik, jauh lebih kuat dari kecemasan Muna. Bahkan, Nadia mampu menaiki 250 anak tangga menuju puncak Bromo dengan kakinya sendiri! (halaman 73). 

Di Puri Tanah Lot, Bali, Muna ditodong seorang bule Cina untuk memotret Nadia. Bule itu sudah seminggu di Indonesia. Dia ingin memotret anaknya, Julie, dengan anak asli Indonesia sebagai kenang-kenangan. Dia sudah mengajak beberapa anak, tapi entah kenapa mereka menolak. Begitu dia melihat Nadia yang tertawa-tawa mengejar ombak, dia memotret Nadia dari jauh dan memintanya beefoto bersama Julie. Tentu saja Muna tidak keberatan. Nadia dan Julie pun berkenalan dengan malu-malu, lalu berfoto bersama (halaman 133). 

Dalam perjalanan ke Pulau Lombok, Muna mengunjungi Desa Sade yang menjadi tempat tinggal Suku Sasak, suku asli Pulau Lombok. Adat pernikahan di desa ini unik. Menurut adat yang berlaku, calon mempelai laki-laki diharuskan melarikan calon mempelai perempuan. Perilaku ini lebih diterima dibanding melamar langsung pada ayah calon istri. Suku Sasak juga dikenal dengan kerajinan khasnya seperti kalung, gelang, hiasan dinding dan kain tenun. Rumah suku Sasak dibangun berbaris dan berdekatan satu dengan lainnya. Pintu masuk yang rendah, membuat Muna harus sedikit membungkuk ketika memasukinya. Satu kebiasaan yang masih dijalankan Suku Sasak sampai sekarang adalah membersihkan seluruh ruangan rumah dengan kotoran kerbau! (halaman 137).

Banyak tempat menarik yang sudah Muna datangi. Diantaranya adalah Tugu Kilometer 0 di Kota Sabang, Danau Toba, Berastagi, mengelilingi pulau-pulau kecil dan menyeruput kopi manggar di Belitung, menikmati sega jamblang di Cirebon, menjelajahi Kota Lama Semarang, berburu batik di Pasar Klewer di Solo, nostalgia masa kuliah di Yogya, mengagumi keindahan Teluk Hijau di Banyuwangi, mengelilingi Gili Trawangan di Lombok, dan sebagainya. 

Buku ini dilengkapi berbagai tips saat mengunjungi tempat wisata tertentu, juga tips traveling bersama anak. Foto-foto mengagumkan di akhir buku semakin membuat pembaca tergerak untuk melakukan penjelajahan. Buku ini layak dibaca bagi mereka penggemar traveling, terlebih jika melakukan traveling bersama pasangan dan buah hati.


Comments

  1. Sebenernya suka travelling, tapi nggak memungkinkan sekarang-sekarang ini, at least sampai Ubii bisa jalan nanti. Hiks. Sekarang baca-baca buku travelling nya dulu deh, nyicil. Hihihihi. Thanks for the review, Mak :*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga sebenarnya suka mak, tapi karena terbatas duit nya jadi travelingnya jarang2 :p

      Delete
  2. Pengen juga ngajak di kecil jalan2 yg rada jauhan dikit deh. Smg segera terwujud. Nice review mak

    ReplyDelete
  3. Aamiiin. Semoga terwujud harapannya. Saya Kalo suami dinas baru bisa ikut jalan2 yg jauhan itu pun Kalo anak libur sekolah. Makasih udah mampir:)

    ReplyDelete
  4. keren yaa mak muna, daku pengen deh ajak bocah2 travelling agak jauhan...makasih reviewnya ya maak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mak, seru ya jalan2 sama anak mereka juga bisa belajar langsung ke alaam dan fisiknya biar lebih kuat diajak jalan

      Delete
  5. Akubtravellingnya baru sebatas ke tempat2 sodara yg jauh2.mpengen bgt ke Bromo. Tapi nunggu anak gedean lah

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama mba, saya keluar jawa belum pernah tapi singapur pernah karena kk ipar tinggal di sana

      Delete
  6. keren dehhh...
    jadi pengen punya uami yang juga suka travelling dan mau ajak saya jalan2, gak jalan sendirian, hihi. kapan yaaa^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. aamiiiin, semoga terwujud mba harapannya

      Delete
  7. Saya termasuk yang jarang travelling, karena 2 faktor waktu dan budget..hehehe..
    Salam kenal ya mbak ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. traveling ga harus yg jauh mba, salam keal juga :)

      Delete
  8. selamat teh Kania, resensinya kereeen.

    ReplyDelete
  9. Wiiih...keren nih bukunya mak Muna. Baru tahu dari resensinya Mak Kania, loh. tengkyu ya mak...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Cerita-cerita Tentang Cinta Lingkungan

Giveaway Buku Republika

Istri dan Suami Yang Dirindukan Surga