Cerita-cerita Tentang Cinta Lingkungan

Judul: Kekasih Yang Takut Cacing
Penulis: Reni Puspa, dkk
Penerbit: Elex Media Komputindo
Tahun: 2014
Halaman: 212
ISBN: 978-602-02-4205-7

Banjir, longsor, air tanah yang berbau, dan musibah lainnya sudah biasa terjadi di negeri kita. Kita seharusnya prihatin. Bumi kita semakin tua. Alam tidak sanggup lagi menahan perbuatan manusia.

Banyak cara yang bisa kita lakukan untuk menjaga alam. Kirani melakukannya dengan caranya yang tidak biasa. Ia membawa botol minum sendiri dibanding botol kemasan. Ia membawa lap tangan dibanding menggunakan tissue. Dengan begitu, Kirani sudah berusaha mengurangi sampah. Kirani juga rajin bersepeda, mematikan air serta memungut dan memilah sampah (halaman 13).

Suatu hari, kekasih Kirani bernama Truna membelikan hadiah ulang tahun berupa dua buah pot. Pot itu tak pernah digunakan Kirani. Truna mengira Kirani tak suka berkebun. Oleh karena itu, Truna mulai mendekati gadis lain. Kirani akhirnya berterus terang bahwa ia hanya takut cacing. Namun, bukan berarti ia tak peduli lingkungan.

Lain halnya dengan Nina. Kota Riau tempatnya tinggal sedang dilanda kabut asap karena pembakaran hutan. Dia tak bisa kemana-mana. Dia hanya keluar rumah untuk membeli obat dan belanja keperluan sehari-hari.

Nina memiliki seorang teman di dunia maya bernama Julang. Julang adalah aktivis pecinta lingkungan. Pertemanan mereka berawal saat Julang membutuhkan informasi tentang aggrek hitam dan gajah yang masuk ke perumahan penduduk di daerah tempat Nina tinggal. Sejak itu, mereka sering bertukar cerita.

Suatu hari, Kak Adam (kakaknya Nina) pulang. Dia berterus terang bahwa dialah pelaku pembakaran hutan. Dia akan menyerahkan diri pada polisi. Ternyata, selama ini dia bekerja di sebuah perusahaan di bagian pembukaan lahan. Nina terkejut. Selama ini, Nina dan Julang seringkali bertukar cerita tentang kecintaan mereka pada alam. Bagaimana kelanjutan hubungan Nina dan Julang?

Sementara itu, seorang pemuda bernama Dhi selalu mencorat-coret tembok sebuah gallery. Dia menamakan hal ini sebagai seni. Padahal, tindakan tak bertanggungjawab ini adalah polusi visual (halaman 157). Apalagi, sampai mengganggu ekosistem di sekelilingnya. Contohnya tanaman dan bunga di sekitar gallery yang terkena bahan kimia dari cat.

Perbuatan Dhi akhirnya diketahui oleh seorang bapak. Bapak itu yang selalu membersihkan kembali coretan Dhi. Bapak itu menyeret Dhi ke dalam gallery. Betapa terkejut Dhi, di dalam gallery terpampang lukisan-lukisan hasil karyanya. Ternyata, selama ini pemilik gallery memotret lukisannya dan memindahkannya ke dalam kanvas. Lukisan tersebut jadi lebih bernilai dibandingkan coretan di tembok yang mengganggu pemandangan.

Cerita tentang Kirani, Nina dan Dhi adalah sebagian kecil cerita inspiratif dalam buku ini. Banyak cerita lainnya yang memotivasi pembaca untuk lebih mencintai lingkungan. Contohnya cerita tentang seorang pemuda bernama Yudhistira yang selalu memakai tas kain saat belanja (halaman 15). Planet Bumi yang rindu pada gadis kecil yang suka membuat pita dari bahan bekas (halaman 43). Ada juga cerita tentang Rohman yang ditunjuk kakeknya sebagai juru kunci hutan di tempat tinggalnya (halaman 199).

Ditulis oleh lima belas penulis, buku ini sangat bermanfaat untuk meningkatkan pengetahuan tentang lingkungan. Banyak istilah-istilah tentang lingkungan seperti waterlogging, polusi, lubang biopori, dan sebagainya. Bahasanya ringan karena dikemas dalam bentuk cerita pendek, akan mudah dinikmati oleh pembaca remaja. Apalagi, hampir semua tokoh dalam buku ini adalah remaja.

Bumi telah menyediakan semua kebutuhan manusia. Seperti kata pembuka dalam buku ini, "Lingkungan yang baik adalah kebaikan bagi individu di dalamnya". Sangat disayangkan jika cinta Bumi pada manusia bertepuk sebelah tangan. Yuk, jaga lingkungan terdekat kita!

Comments

  1. mencorat-coret tembok itu benar-benar bagian dari seni loh, namanya seni grafity klo tidak salah

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Giveaway Buku Republika

Istri dan Suami Yang Dirindukan Surga